Tidak sedikit ulama' yang mati hanya demi memperhtahankan aqidahnya dan salah satu contoh yaitu kisah said bin jubbair.
Ketika terdengar desas-desus tentang said bin jubbair ditelingga al hajjaj, penguasa yang lalim itu langsung memerintahkan pengawalnya untuk membawa said ke hadapanya.
Begitu said bin jubbair sampai, al hajjaj langsung bertanya, " siapa namamu ?" "said bin Jubbair," jawab ulama yang pemberani itu. "Bukankah namamu Asy-Syaqi bin Kusair (orang yang sengsara dari anak yang patah)?" ejek al hajjaj sambil menyeringai. "Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau!" tukas said. Masih dengan nada mengejek, al hajjaj berkata lagi, "Kau sengsara dan ibumu pun pasti sengsara." "bukan anda yang mengetahui urusan ghaib!"
Al hajjaj kontan marah mendengar perkataan said. " Lancang kau!" akan aku hadiahi kau dengan api yang menyala-nyala atas sikapmu tadi!".
Tapi said tak takut. "Seandainya aku tahu kau kau mampu melakukannya, niscaya engkau akan aku jadikan tuhan, " jawabnya. Al hajjaj bertanya lagi, "Apa pendapatmu tentang Muhammad?" Said menjawab " Nabi yang membawa rahmat, pemimpin yang memberi petunjuk dan utusan Rabb yang menyeru umat manusia dengan nasihat yang baik," jawab ulama pemberani nan cerdas itu. Al hajjaj malah makin penasaran dengannya. " apa pendapatmu tentang ali bin abi thalib? apakah ia di neraka ataukah di surga?" "seandainya aku pernah masuk surga atau neraka, tentu aku tahu siapa saja penghuninya, pertanyaan anda tentang hal ghaib seperti itu tidak akan mengungkap rahasia."
Kalau begitu " apa pendapat anda tentang para khalifah; Abu Bakar, Umar, Utsman dan ali?" tanya al hajjaj lagi. "aku bukanlah orang yang mewakili mereka. Setisp orang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan," jawab said tenang. "apakah aku memuji atau mencela mereka?" said menegaskan, aku tidak mengatakan apa yang tidak aku ketahui, melainkan aku hanya memperdulikan urusan diriku sendiri." Al hajjaj seakan tak bosan mencecar pertanyaan kepada said. " Siapakah diantara mereka yang paling engkau kagumi?" tanyanya melanjutkan. "yang paling diridhlai oleh penciptaku." Al hajjaj bertanya lagi, "Siapakah diantara merka yang paling dirdhai sang pencipta?" Said menjawab, "Pengetahuan tentang itu hanya ada ditangan Dzat yang Maha mengetahui rahasia dan batin mereka."Aku lelaki macam apa di hari kiamat nanti?" ulama' itu berkilah mantap, " Aku terlalu lemah bagi Allah untuk mengetahui hal-hal ghaib." Al hajjaj bertanya lagi, "engkau enggan berkata jujur padaku?" "tidak, bahkan aku tidak ingin berdusta padamu!" tegas said. "apakah aku pernah melihat pemainan yang sia-sia?" tanya al hajjaj. "tidak " jawab said. Lalu al hajjaj meminta para pengawalnya mengambil batangan kayu itu dipukulkan ke tubuh said dan api disemburkan padanya, Said menangis. Ia lalu di tanya "Apakah yang membuatmu menangis?" said pun menjawab "Wahai al-hajjaj, engkau telah mengingatkan aku tentang perkara besar(Neraka)! Demi Allah! aku tidak kenyang, tidak puas, tidak terpenuhi dan masih terus sedih karena apa yang aku lihat itu!" ujar Said menjelaskan. Al-hajjaj bertanya lagi, "tidakkah kau lihat bahwa ini permainan?" "tidak ini justru sebuah kesedihan. Demi allah! semburan api ini mengingatkanku akan hari yang besar. Hari dimana sangkakala di bunyikan(kiamat). sedang kayu itu dipotong secara tidak sah dan tali itu adalah pengikat leher yang akan digunakan untuk menyeretmu pada hari kiamat." "Tapi aku lebih dicintai Allah dari pada engkau" sergah al-hajjaj tak mau kalah. dan said pun menimpali lagi, "Tidak seorang pun dapat lancang mengaku demikian terhadap Allah, hingga mengetahui kedudukanya di sisi-Nya. Allah lebih metehaui perkara ghaib."
"Apa pendapatmu tentang harta yang aku kumpulkan untuk diserahkan kepada amirul mukminin?" "Aku tidak mau tahu," jawab said. Lalu Al-hajjaj meminta pembantunya mengambil perhiasan dan logam mulia berupa emas, perak, berlian, mutiara, permata dan uang yang kemudian diletakkan di hadapan said.
Said kemudian berkata "Harta semua ini baik jika engkau memenuhi syaratnya." "apa syaratnya?" tanya al-hajjaj sang penguasa lalim tersebut. "sebaiknya engkau membelinya dengan sesuatu yang menjamin keselamatanmu dari guncangan besar di hari kiamat. Seandainya itu engkau lakukan, maka kau akan selamat. Tapi jika tidak, maka satu goncangan saja akan membuat 'semua wanita yang menyusui anaknya akan lalai dari anak yang disusuinya dan semua wanita hamil akan gugur'. Artinya saat itu tidak ada artinya semua harta yang di kumpulkan untuk kehidupan duniawi kecuali yang diperoleh dengan cara yang baik dan bersih."
"Apakah kau melihat kami mengumpulkan harta dengan jalan yang bersih?" tanya Al-hajjaj penasaran. Said menjawab, "Dengan pikiranmu harta itu engkau kumpulkan, maka engkaulah yang lebih tau baik buruknya harta itu." Al-hajjaj bertanya lagi, "Apakah kau memiliki sebagian harta itu?" "Aku tidak suka pada apa yang tidak disukai oleh Allah," jawab Said. Merasa dilecehkan oleh celoteh said, Al-hajjaj pun geram "Celakalah engkau!" "Kecelakaan hanyalah bagi orang yang dijauhkan dari Surga dan dimasukkan kedalam Neraka!" kali ini tak bisa lagi Ia menahan amarah, "Kematian seperti apa yang engau inginkan saat aku membunuhmu?" "Jika ada maaf maka itu dari Allah, sedangkan engkau tidak memiliki tanggung jawab atas dosa dan maaf!" jawab Said tenang. "Bawa dia dan bunuh!"
Ketika keluar melewati pintu, Said sempat tertawa. para pengawal yang membawanya, segera melaporkan hal itu. Said pun segera dibawa ke hadapan Al-hajjaj. "Apa yang membuatmu tertawa?" "Aku heran melihat keberanianmu terhadap Allah dan juga kagum pada kelembutan Allah terhadapmu." Said menjawab dengan tenangnya. kemarahan Al-hajjaj semakin memuncak, al-hajjaj kemudian memberi perintah agar mengelar natha' (semacam alas besar yang terbuat dari kulit agar darah orang yang telah dibunuh tidak tercecer) untuk said.
Namun said meminta diberi waktu untuk shalat dua rakaat terlebih dahulu. Ia menghadap kiblat sambil membacakan ayat " Sesungguhnya aku mengahadapkan diriku kepada Tuhanyang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah orang-orang yang mempersekutukan-Nya." (Al-An'am: 79).
Ketika terdengar desas-desus tentang said bin jubbair ditelingga al hajjaj, penguasa yang lalim itu langsung memerintahkan pengawalnya untuk membawa said ke hadapanya.
Begitu said bin jubbair sampai, al hajjaj langsung bertanya, " siapa namamu ?" "said bin Jubbair," jawab ulama yang pemberani itu. "Bukankah namamu Asy-Syaqi bin Kusair (orang yang sengsara dari anak yang patah)?" ejek al hajjaj sambil menyeringai. "Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau!" tukas said. Masih dengan nada mengejek, al hajjaj berkata lagi, "Kau sengsara dan ibumu pun pasti sengsara." "bukan anda yang mengetahui urusan ghaib!"
Al hajjaj kontan marah mendengar perkataan said. " Lancang kau!" akan aku hadiahi kau dengan api yang menyala-nyala atas sikapmu tadi!".
Tapi said tak takut. "Seandainya aku tahu kau kau mampu melakukannya, niscaya engkau akan aku jadikan tuhan, " jawabnya. Al hajjaj bertanya lagi, "Apa pendapatmu tentang Muhammad?" Said menjawab " Nabi yang membawa rahmat, pemimpin yang memberi petunjuk dan utusan Rabb yang menyeru umat manusia dengan nasihat yang baik," jawab ulama pemberani nan cerdas itu. Al hajjaj malah makin penasaran dengannya. " apa pendapatmu tentang ali bin abi thalib? apakah ia di neraka ataukah di surga?" "seandainya aku pernah masuk surga atau neraka, tentu aku tahu siapa saja penghuninya, pertanyaan anda tentang hal ghaib seperti itu tidak akan mengungkap rahasia."
Kalau begitu " apa pendapat anda tentang para khalifah; Abu Bakar, Umar, Utsman dan ali?" tanya al hajjaj lagi. "aku bukanlah orang yang mewakili mereka. Setisp orang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan," jawab said tenang. "apakah aku memuji atau mencela mereka?" said menegaskan, aku tidak mengatakan apa yang tidak aku ketahui, melainkan aku hanya memperdulikan urusan diriku sendiri." Al hajjaj seakan tak bosan mencecar pertanyaan kepada said. " Siapakah diantara mereka yang paling engkau kagumi?" tanyanya melanjutkan. "yang paling diridhlai oleh penciptaku." Al hajjaj bertanya lagi, "Siapakah diantara merka yang paling dirdhai sang pencipta?" Said menjawab, "Pengetahuan tentang itu hanya ada ditangan Dzat yang Maha mengetahui rahasia dan batin mereka."Aku lelaki macam apa di hari kiamat nanti?" ulama' itu berkilah mantap, " Aku terlalu lemah bagi Allah untuk mengetahui hal-hal ghaib." Al hajjaj bertanya lagi, "engkau enggan berkata jujur padaku?" "tidak, bahkan aku tidak ingin berdusta padamu!" tegas said. "apakah aku pernah melihat pemainan yang sia-sia?" tanya al hajjaj. "tidak " jawab said. Lalu al hajjaj meminta para pengawalnya mengambil batangan kayu itu dipukulkan ke tubuh said dan api disemburkan padanya, Said menangis. Ia lalu di tanya "Apakah yang membuatmu menangis?" said pun menjawab "Wahai al-hajjaj, engkau telah mengingatkan aku tentang perkara besar(Neraka)! Demi Allah! aku tidak kenyang, tidak puas, tidak terpenuhi dan masih terus sedih karena apa yang aku lihat itu!" ujar Said menjelaskan. Al-hajjaj bertanya lagi, "tidakkah kau lihat bahwa ini permainan?" "tidak ini justru sebuah kesedihan. Demi allah! semburan api ini mengingatkanku akan hari yang besar. Hari dimana sangkakala di bunyikan(kiamat). sedang kayu itu dipotong secara tidak sah dan tali itu adalah pengikat leher yang akan digunakan untuk menyeretmu pada hari kiamat." "Tapi aku lebih dicintai Allah dari pada engkau" sergah al-hajjaj tak mau kalah. dan said pun menimpali lagi, "Tidak seorang pun dapat lancang mengaku demikian terhadap Allah, hingga mengetahui kedudukanya di sisi-Nya. Allah lebih metehaui perkara ghaib."
"Apa pendapatmu tentang harta yang aku kumpulkan untuk diserahkan kepada amirul mukminin?" "Aku tidak mau tahu," jawab said. Lalu Al-hajjaj meminta pembantunya mengambil perhiasan dan logam mulia berupa emas, perak, berlian, mutiara, permata dan uang yang kemudian diletakkan di hadapan said.
Said kemudian berkata "Harta semua ini baik jika engkau memenuhi syaratnya." "apa syaratnya?" tanya al-hajjaj sang penguasa lalim tersebut. "sebaiknya engkau membelinya dengan sesuatu yang menjamin keselamatanmu dari guncangan besar di hari kiamat. Seandainya itu engkau lakukan, maka kau akan selamat. Tapi jika tidak, maka satu goncangan saja akan membuat 'semua wanita yang menyusui anaknya akan lalai dari anak yang disusuinya dan semua wanita hamil akan gugur'. Artinya saat itu tidak ada artinya semua harta yang di kumpulkan untuk kehidupan duniawi kecuali yang diperoleh dengan cara yang baik dan bersih."
"Apakah kau melihat kami mengumpulkan harta dengan jalan yang bersih?" tanya Al-hajjaj penasaran. Said menjawab, "Dengan pikiranmu harta itu engkau kumpulkan, maka engkaulah yang lebih tau baik buruknya harta itu." Al-hajjaj bertanya lagi, "Apakah kau memiliki sebagian harta itu?" "Aku tidak suka pada apa yang tidak disukai oleh Allah," jawab Said. Merasa dilecehkan oleh celoteh said, Al-hajjaj pun geram "Celakalah engkau!" "Kecelakaan hanyalah bagi orang yang dijauhkan dari Surga dan dimasukkan kedalam Neraka!" kali ini tak bisa lagi Ia menahan amarah, "Kematian seperti apa yang engau inginkan saat aku membunuhmu?" "Jika ada maaf maka itu dari Allah, sedangkan engkau tidak memiliki tanggung jawab atas dosa dan maaf!" jawab Said tenang. "Bawa dia dan bunuh!"
Ketika keluar melewati pintu, Said sempat tertawa. para pengawal yang membawanya, segera melaporkan hal itu. Said pun segera dibawa ke hadapan Al-hajjaj. "Apa yang membuatmu tertawa?" "Aku heran melihat keberanianmu terhadap Allah dan juga kagum pada kelembutan Allah terhadapmu." Said menjawab dengan tenangnya. kemarahan Al-hajjaj semakin memuncak, al-hajjaj kemudian memberi perintah agar mengelar natha' (semacam alas besar yang terbuat dari kulit agar darah orang yang telah dibunuh tidak tercecer) untuk said.
Namun said meminta diberi waktu untuk shalat dua rakaat terlebih dahulu. Ia menghadap kiblat sambil membacakan ayat " Sesungguhnya aku mengahadapkan diriku kepada Tuhanyang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah orang-orang yang mempersekutukan-Nya." (Al-An'am: 79).